TAZKIYATUNNAFS
PONDASI JIWA
TAUHID
KOMITMEN KEPADA AL-QURAN HADITS
PERCAYA QADAA & QADARA
PERCAYA HARI AKHIR
Tauhid secara bahasa artinya adalah Mengesakan. Sedangkan menurut istilah,
tauhid adalah Mengesakan Allah dalam Uluhiyah, Rububiyah, Nama-Nama dan
Sifat-Sifat-Nya. Dari definisi ini menjadi jelas bagi kita bahwa:
Qs. Shaad : 65-66
MEMURNIKAN TAUHID DENGAN JIWA
1. Tauhid yang murni akan terwujud jika Tuhan disembah (ilah) hanya satu,
tidak bermacam-macam.
2. Tauhid yang murni juga akan terwujud jika terdapat keyakinan bahwa
Pencipta, Pemberi rizki dan Pengatur alam ini hanya satu, tidak ada sekutu
dalam penciptaan dan menghidupkan sebagaimana yang diyakini orang-orang
Nashrani bahwa Isa ‘alaihissalam dapat menciptakan, menghidupkan dan mematikan.
MANFAAT TAUHID BAGI MANUSIA
3. Tauhid yang murni juga akan terwujud jika berkeyakinan bahwa Allah
memiliki Nama-Nama yang Mulia dan Sifat-Sifat yang Agung, tidak ada sekutu
bagi-Nya di dalam Nama-Nama dan Sifat-Sifat tersebut.
1. Tauhid merupakan sebab paling utama terhapusnya dosa dan kesalahan.
Dalilnya adalah hadits Anas radhiallahu ‘anhu, beliau berkata: Saya mendengar
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Allah Ta’ala berfirman:
‘Wahai anak adam, seandainya engkau mendatangi-Ku dengan sepenuh bumi dosa,
kemudian engkau menemui-Ku dalam keadaan tidak menyekutukan Aku sedikitpun
–yakni beertauhid-, maka Aku akan mendatangimu dengan sepenuh itu pula
ampunan’”. (Riwayat Tirmidzi [V/548, no. 3540], Ibnu Majah [II/1255, no.3821],
dan Ahmad [V/147, 148, 153, 154, 155]).
2. Tauhid membebaskan seorang hamba dari perbudakan makhluk dan
ketergantungan, ketakutan dan kepasrahan terhadap mereka serta beramal untuk
mereka. Hati seorang yang bertauhid selalu bergantung kepada Rabb-nya, Pencipta
langit dan bumi yang di Tangan-Nya kekuasaan atas segala sesuatu. Inilah harga
diri yang hakiki dan kemuliaan yang agung. Seorang yang bertauhid selalu
beribadah hanya kepada Allah, tidak mengharapkan kepada selain-Nya dan tidak
takut kecuali kepada-Nya. Sehingga dengan demikian, kesuksesan dan
keberhasilannya kian terealisir.
3. Tauhid merupakan satu-satunya sebab untuk mengggapai ridho Allah Ta’ala,
cinta dan pahala-Nya. Berbeda dengan syirik yang merupakan sebab turunnya siksa
Allah, kemurkaan dan kepedihan azab-Nya. Firman Allah Ta’ala: “Kamu tidak akan
mendapat suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat saling berkasih
sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun
orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun
keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan
dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang
daripada-Nya. Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di
bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka
dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah
golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah yang
beruntung.” (QS. Al-Mujadilah: 22).
4. Tauhid yang telah tertanam mantap dalam hati seseorang hamba akan
meringankannya dari segala kesulitan, musibah, kepedihan dan kesedihannya. Jika
seseorang menyempurnakan tauhid dan keimanannya, dia akan menghadapi kesulitan
dan kepedihannya dengan hati yang sabar, jiwa yang tenang, dan menerima serta
ridha dengan taqdir Allah. Allah telah memuji orang yang bertauhid ketika
mereka menerima musibah. Allah Ta’ala berfirman: “(Yaitu) orang-orang yang
apabila ditimpa musibah, mereka menggucapkan ‘Innaa lillahi wa innaa ilaihi
raaji’un’. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari
Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat pujian.” (QS.
Al-Baqarah: 156-157).
Rujukan: Kitab “Tauhid, Urgensi dan Manfaatnya”, yang ditulis oleh DR. Umar bin Su’ud al-‘Ied dan diterbitkan oleh Al-Maktab at-Ta’awuni Lid Da’wah wal Irsyad wa Tau’iyatil Jaliat bi as-Sulay.
Rujukan: Kitab “Tauhid, Urgensi dan Manfaatnya”, yang ditulis oleh DR. Umar bin Su’ud al-‘Ied dan diterbitkan oleh Al-Maktab at-Ta’awuni Lid Da’wah wal Irsyad wa Tau’iyatil Jaliat bi as-Sulay.
Penulis:
KOMITMEN KEPADA AL-QUR’AN DAN
AS-SUNNAH
Sikap meyakini terhadap Al Qur’an dan As-Sunnah
sikap ini akan muncul
dengan meyakini bahwa Al Qur’an adalah wahyu Allah, yang diturunkan kepada Nabi
Muhammad SAW dan Beliaulah yang patut kita teladani.
Mencintai Al Qur’an dan As-Sunnah
sikap ini akan tumbuh
manakala timbul keyakinan dalam diri kita bahwa Al Qur’an dan As-sunnah itu
memang benar-benar merupakan pedoman dalam kehidupan seorang muslim.
Al Qur’an dan As-Sunnah di peruntukkan kepada manusia dan orang-orang yang
beriman
maka berfungsi sebagai
petunjuk, bagi orang-orang yang bertakwa dan petunjuk bagi manusia maka tidak
sekedar dibaca, tetapi perlu adanya upaya untuk memahami isi yang terkandung
didalamnya.
d. Mengamalkan dalam
kehidupan sehari-hari, Al Qur’an yang terdiri dari 30 juz dan as-sunnah itu
banyak sekali mengandung perintah, larangan, petunjuk.
IMAN KEPADA QADHA DAN QADHAR
Definisi
qadha’ adalah
kemampuan Allah untuk mengadakan (menjadikan) sesuatu sesuai ilmu dan kehendakNya.
Sedangkan qadar adalah ilmu Allah mengenai apa yang akan terjadi pada seluruh
makhlukNyqa di masa yang akan datang.
jadi iman kepada
qadha’ dan qadar bearti iman kepada ilmi Allah yang kekal dan kepada kehendak
Allah yang pasti terlaksana, serta kemampuanNya yang sempurna.
Qs. Al-Hajj(22) : 70
MANFAAT IMAN QADHA DAN QADHAR
Meringankan kesedihan saat ditimpa musibah dan tidak sombong saat mendapat
banyak kenikmatan.
Menanamkan keberanian pada jiwa manusia
Mengerahkan segenap kemampuan dan menyingkirkan sikap putus asa.
Selamat hati dari dendam dan dengki.
Berpeluang mendapat kebaikan yang besar, pahala yang dijanjikan dan
kenikmatan selamanya di akhirat.
IMAN KEPADA HARI AKHIR
Pentingnya iman kepada hari akhir
Iman kepada segala hal
yang terjadi pada hari Akhir dan tanda-tandanya merupakan keimanan terhadap hal
ghaib yang tidak bisa dijangkau oleh akal, dan tidak ada jalan untuk
mengetahuinya kecuali dengan nash melalui wahyu.
Karena pentingnya hari yang agung ini, kita dapati (di dalam al-Qur-an) bahwa Allah Ta’ala seringkali menghubungkan iman kepada-Nya dengan iman kepada hari Akhir.
Karena pentingnya hari yang agung ini, kita dapati (di dalam al-Qur-an) bahwa Allah Ta’ala seringkali menghubungkan iman kepada-Nya dengan iman kepada hari Akhir.
لَّيْسَ الْبِرَّ أَن تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِِ
“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari Kemudian....” [Al-Baqarah: 177]
PENGARUH IMAN KEPADA HARI AKHIR
Menghalangi manusia dari maksiat dan memperkuat dominasi agama di hatinya,
serta mengendalikan
hawa nafsu di bawah perontah syar’i.
Qs.Al-Baqarah : 284
Bersegera untuk taat dan beramal shaleh.
Qs.Ali Imran : 133
Mengerahkan segenap kemampuan (jiwa dan raga) di jalan Allah.
Qs.At-Taubah : 111
Sabar atas segala musibah
Qs.Az-Zumar : 10
Takut mengganggu orang lain