Jumat, 16 Oktober 2015

Pondasi Jiwa


TAZKIYATUNNAFS

PONDASI JIWA

TAUHID

KOMITMEN KEPADA AL-QURAN HADITS

PERCAYA QADAA & QADARA

PERCAYA HARI AKHIR

Tauhid secara bahasa artinya adalah Mengesakan. Sedangkan menurut istilah, tauhid adalah Mengesakan Allah dalam Uluhiyah, Rububiyah, Nama-Nama dan Sifat-Sifat-Nya. Dari definisi ini menjadi jelas bagi kita bahwa:

Qs. Shaad : 65-66

MEMURNIKAN TAUHID DENGAN JIWA

1. Tauhid yang murni akan terwujud jika Tuhan disembah (ilah) hanya satu, tidak bermacam-macam.

2. Tauhid yang murni juga akan terwujud jika terdapat keyakinan bahwa Pencipta, Pemberi rizki dan Pengatur alam ini hanya satu, tidak ada sekutu dalam penciptaan dan menghidupkan sebagaimana yang diyakini orang-orang Nashrani bahwa Isa ‘alaihissalam dapat menciptakan, menghidupkan dan mematikan.

MANFAAT TAUHID BAGI MANUSIA

3. Tauhid yang murni juga akan terwujud jika berkeyakinan bahwa Allah memiliki Nama-Nama yang Mulia dan Sifat-Sifat yang Agung, tidak ada sekutu bagi-Nya di dalam Nama-Nama dan Sifat-Sifat tersebut.

1. Tauhid merupakan sebab paling utama terhapusnya dosa dan kesalahan. Dalilnya adalah hadits Anas radhiallahu ‘anhu, beliau berkata: Saya mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Allah Ta’ala berfirman: ‘Wahai anak adam, seandainya engkau mendatangi-Ku dengan sepenuh bumi dosa, kemudian engkau menemui-Ku dalam keadaan tidak menyekutukan Aku sedikitpun –yakni beertauhid-, maka Aku akan mendatangimu dengan sepenuh itu pula ampunan’”. (Riwayat Tirmidzi [V/548, no. 3540], Ibnu Majah [II/1255, no.3821], dan Ahmad [V/147, 148, 153, 154, 155]).

2. Tauhid membebaskan seorang hamba dari perbudakan makhluk dan ketergantungan, ketakutan dan kepasrahan terhadap mereka serta beramal untuk mereka. Hati seorang yang bertauhid selalu bergantung kepada Rabb-nya, Pencipta langit dan bumi yang di Tangan-Nya kekuasaan atas segala sesuatu. Inilah harga diri yang hakiki dan kemuliaan yang agung. Seorang yang bertauhid selalu beribadah hanya kepada Allah, tidak mengharapkan kepada selain-Nya dan tidak takut kecuali kepada-Nya. Sehingga dengan demikian, kesuksesan dan keberhasilannya kian terealisir.

3. Tauhid merupakan satu-satunya sebab untuk mengggapai ridho Allah Ta’ala, cinta dan pahala-Nya. Berbeda dengan syirik yang merupakan sebab turunnya siksa Allah, kemurkaan dan kepedihan azab-Nya. Firman Allah Ta’ala: “Kamu tidak akan mendapat suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah yang beruntung.” (QS. Al-Mujadilah: 22).

4. Tauhid yang telah tertanam mantap dalam hati seseorang hamba akan meringankannya dari segala kesulitan, musibah, kepedihan dan kesedihannya. Jika seseorang menyempurnakan tauhid dan keimanannya, dia akan menghadapi kesulitan dan kepedihannya dengan hati yang sabar, jiwa yang tenang, dan menerima serta ridha dengan taqdir Allah. Allah telah memuji orang yang bertauhid ketika mereka menerima musibah. Allah Ta’ala berfirman: “(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka menggucapkan ‘Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’un’. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat pujian.” (QS. Al-Baqarah: 156-157).
Rujukan: Kitab “Tauhid, Urgensi dan Manfaatnya”, yang ditulis oleh DR. Umar bin Su’ud al-‘Ied dan diterbitkan oleh Al-Maktab at-Ta’awuni Lid Da’wah wal Irsyad wa Tau’iyatil Jaliat bi as-Sulay.

Penulis:

KOMITMEN KEPADA AL-QUR’AN DAN AS-SUNNAH

Sikap meyakini terhadap Al Qur’an dan As-Sunnah

                sikap ini akan muncul dengan meyakini bahwa Al Qur’an adalah wahyu Allah, yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dan Beliaulah yang patut kita teladani.

Mencintai Al Qur’an dan As-Sunnah

                sikap ini akan tumbuh manakala timbul keyakinan dalam diri kita bahwa Al Qur’an dan As-sunnah itu memang benar-benar merupakan pedoman dalam kehidupan seorang muslim.

Al Qur’an dan As-Sunnah di peruntukkan kepada manusia dan orang-orang yang beriman

                maka berfungsi sebagai petunjuk, bagi orang-orang yang bertakwa dan petunjuk bagi manusia maka tidak sekedar dibaca, tetapi perlu adanya upaya untuk memahami isi yang terkandung didalamnya.

d.            Mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari, Al Qur’an yang terdiri dari 30 juz dan as-sunnah itu banyak sekali mengandung perintah, larangan, petunjuk.

IMAN KEPADA QADHA DAN QADHAR

Definisi

                qadha’ adalah kemampuan Allah untuk mengadakan (menjadikan) sesuatu sesuai ilmu dan kehendakNya. Sedangkan qadar adalah ilmu Allah mengenai apa yang akan terjadi pada seluruh makhlukNyqa di masa yang akan datang.

                jadi iman kepada qadha’ dan qadar bearti iman kepada ilmi Allah yang kekal dan kepada kehendak Allah yang pasti terlaksana, serta kemampuanNya yang sempurna.

Qs. Al-Hajj(22) : 70

MANFAAT IMAN QADHA DAN QADHAR

Meringankan kesedihan saat ditimpa musibah dan tidak sombong saat mendapat banyak kenikmatan.

Menanamkan keberanian pada jiwa manusia

Mengerahkan segenap kemampuan dan menyingkirkan sikap putus asa.

Selamat hati dari dendam dan dengki.

Berpeluang mendapat kebaikan yang besar, pahala yang dijanjikan dan kenikmatan selamanya di akhirat.

IMAN KEPADA HARI AKHIR

Pentingnya iman kepada hari akhir

                Iman kepada segala hal yang terjadi pada hari Akhir dan tanda-tandanya merupakan keimanan terhadap hal ghaib yang tidak bisa dijangkau oleh akal, dan tidak ada jalan untuk mengetahuinya kecuali dengan nash melalui wahyu.
Karena pentingnya hari yang agung ini, kita dapati (di dalam al-Qur-an) bahwa Allah Ta’ala seringkali menghubungkan iman kepada-Nya dengan iman kepada hari Akhir.


لَّيْسَ الْبِرَّ أَن تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِِ

Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari Kemudian....” [Al-Baqarah: 177]

PENGARUH IMAN KEPADA HARI AKHIR

Menghalangi manusia dari maksiat dan memperkuat dominasi  agama di hatinya,

                serta mengendalikan hawa nafsu di bawah perontah syar’i.

                Qs.Al-Baqarah : 284

Bersegera untuk taat dan beramal shaleh.

                Qs.Ali Imran : 133

Mengerahkan segenap kemampuan (jiwa dan raga) di jalan Allah.

                Qs.At-Taubah : 111

Sabar atas segala musibah

                Qs.Az-Zumar : 10

Takut mengganggu orang lain

               

 

Membanggakan Diri (UJUB)


اعجاب بالنفس

(Membanggakan diri)

A.    Pengertian I’Jaab Bin-Nafsi

            Dalam bahasa arab, kata I’jaab mengandung beberapa arti. Antara lain:

a.       Rasa senang, tertarik, atau kagum. A’jabahul-amru, artinya ‘sesuatu itu telah menjadikannya senang’ , u’jiba bihi, artinya ‘ia menjadi terikat dengannya.’ Allah SWT berfirman,

وَلَا تَنكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّىٰ يُؤْمِنَّ ۚ وَلَأَمَةٌ مُّؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِّن مُّشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ ۗ وَلَا تُنكِحُوا الْمُشْرِكِينَ حَتَّىٰ يُؤْمِنُوا ۚ وَلَعَبْدٌ مُّؤْمِنٌ خَيْرٌ مِّن مُّشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ ۗ أُولَٰئِكَ يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ ۖ وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ ۖ وَيُبَيِّنُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

 

      “Dan janganlah kamu menikahi perempuan musyrik, sebelum mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya perempuan yang beriman lebih baik dari pada perempuan musyrik meskipun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu nikahkan orang (laki-laki) musyrik (dengan perempuan yang beriman) sebelum mereka beriman. Sungguh hamba sahaya laki-laki yang beriman lebih baik daripada laki-laki musyrik meskipun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedangkan Allah mengajak ke surge dan ampunan dengan izinNya. (Allah) menerangkan ayat-ayatNya kepada manusia agar mereka mengambil pelajaran.” (QS. Albaqoroh : 221)

 

Firman lain,

 

“Katakanlah, ‘Tidak sama yang buruk dengan yang baik meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimmu…” (QS Al-Baqarah : 100)

 

b.      Kemegahan, kemuliaan, dan kebesaran. A’jabahul-amru, artinya ‘merasa megah’, ‘mulia’, atau ‘besar dengan sesuatu’. Seorang mu’jib berarti ‘orang yang merasa megah, agung, dan besar’ ketika ia memiliki sesuatu, baik kebaikan atau keburukan.

Allah SWT berfirman,

 

“…. Dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu pada waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlahmu, maka jumlah yang banyak itu tidak member manfaat kepadamu sedikit pun…..” (QS. At-Taubah : 25)

 

Menurut istilah dalam dakwah, I’jaab bin-nafsi yaitu ‘rasa senang dan bahagia, baik pada diri pribadi, kata-kata, atau perbuatan yang dilakukannya, tanpa memperhitungkan orang lain’. Baik kesenangan itu karena kebaikan atau pun keburukan. Jika dalam rasa senangnya itu disertai sikap mengejek atau merendahkan perbuatan orang lain, maka hal tersebut disebut ghuruur atau sangat ‘ujub sekali.

 

B.     Faktor-faktor penyebab I’jaab Bin-Nafsi

1.      Latar belakang awal kehidupan.

Seseorang yang terbiasa hidup dibawah asuhan orang tua yang memiliki sifat suka dipuji baik dalam kebaikan maupun kebathilan, kebal terhadap nasihat atau kritik, dan hal-hal lain yang bersifat I’jaab bin-nafsi berpeluang besar terkena penyakit tersebut, kecuali bagi mereka yang mendapat rahmat Allah SWT.

2.      Sanjungan dan Pujian di hadapannya yang tidak memperhatikan adab islam.

Seseorang yang senantiasa mendapat pujian atau sanjungan secara langsung yang tidak memperhatikan adab memuji yang diajarkan islam, Ia akan tergila-gila dengan pujian itu dan merasa bahwa pujian itu lahir karena kemampuan yang dimilikinya dan tidak dimiliki orang lain. Cetusan hati ini akn terus tumbuh dalam jiwanya sampai akhirnya Ia tertimpa penyakit I’jaab bin-nafsi .

3.      Berteman dengan orang yang Ujub.

4.      Terlena oleh kenikmatan dan melupakan Allah Maha pemberi nikmat.

Sebagian orang yang telah Allah beri nikmat berupa harta, ilmu, kemampuan, kecantikan, kedudukan, dan lain-lain. Kemudian Ia terlena oleh nikmat tersebut dan melupakan Allah yang memberi nikmat tersebut. Dibawah pengaruh keterlenaan inilah hati mulai terkotori dengan perasaan bangga terhadap apa yang dimiliki atas kemampuan yang Ia miliki, dan akhirnya ia terkena penyakit I’jaab Bin-Nafsi.

Contoh dari kesombongan terhadap harta yaitu kisah Karun yang sombong atas hartanya yang melimpah.

Allah SWT berfirman,

فَخَرَجَ عَلَىٰ قَوْمِهِ فِي زِينَتِهِ ۖ قَالَ الَّذِينَ يُرِيدُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا يَا لَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَا أُوتِيَ قَارُونُ إِنَّهُ لَذُو حَظٍّ عَظِيمٍ [٢٨:٧٩]

       

      “Maka keluarlah Karun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia, ‘Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan keepada Karun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar’.”

 

Islam menegaskan bahwa segala nikmat itu bersumber dari Allah semata. Firman Allah SWT :

وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ۖ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ [١٦:٥٣]

      “Dan semua nikmat yang ada padamu hanyalah dari Allah…”

(QS.An-Nahl : 53)

 

5.      Tampil Melaksanakan Aktivitas Sebelum Matang dan Sempurna Pendidikannya.

 

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنفِرُوا كَافَّةً ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِن كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَائِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ [٩:١٢٢]

 

      “Mengapa tidak pergi dari segolongan mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka kembali kepada-Nya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (QS. At-taubah : 122)

 

Umar Bin Khaththab berkata,

“perolehlah pemahaman terlebih dahulu sebelum kalian memimpin.”

 

Maksudnya, pelajarilah ilmu sebelum kita melaksanakan tugas sebagai pemimpin dan sebelum memikul suatu tanggung jawab, agar kita mampu menyingkap dan menyelesaikan setiap kendala dan problema pada saat kita menjadi seorang pemimpin dan melaksanakan tanggung jawab.

 

6.      Lalai atau Jahil terhadap hakikkat diri.

Manakala manusia lupa atau tidak mengenal hakikat dirinya, Ia akan mudah terperosok pada penyakit ‘ujub. Ketika kita tidak mengenali bahwa kita ini hanya manusia yang terbuat dari tanah dan memiliki kepastian akan kematian, kita hanya mengenali indahnya dunia, maka penyakit ‘ujub  akan menyerang kita. Banyak ayat dan hadits yang mengingatkan kita akan asal mula manusia.

FirmanNya,

      “Bukankah Kami telah ciptakan kalian dari air yang hina.”

(QS. Al-Mursalat: 20)

      “Kemudian Dia akan mematikan (manusia) dan menguburkannya.”

(QS. ‘Abasa: 21)

7.      Berasal dari keturunan bangsawan.

Sesungguhanya kita tidak mempunyai hak ikut campur tangan dalam hal nasab, karena itu merupakan ketentuan Illahi. Seperti yang telah dijelaskan, bahwa ketika kita sudah mampu mengenal hakikat diri kita, maka kita tidak akan lagi menjadikan hal-hal yang bersifat duniawi menjadi prioritas untuk menjadi kebanggaan, begitupun dalam hal keturunan, kita tidak akan lagi menjadikan permasalahan antara keturunan bangsawan atau rakyat biasa, karena pada hakikatnya keduanya sama-sama lahir dari sumber yang sama.

 

8.      Terlalu berlebih dalam memberikan penghormatan.

Hal ini masih banyak sekali ditemukan di masyarakat kita. Seperti mencium tangan atau menundukkan badan secara berlebihan ketika berhadapan dengan seseorang yang dianggap mulia seperti Kyai. Perlakuan ini akan menjadikan seseorang mendapat bisikan bahwa perlakuan ini adalah karena kemuliaan yang dimilikinya, dan bisikan ini akan berakhir pada penyakit bangga diri (‘ujub binnafsi).

 

C.     Dampak dari penyakit ‘Ujub Bin-Nafsi’

a.       Terjerat dalam sikap angkuh bahkan sombong.

Penyakit ‘ujub akan menjadikan kita meremehkan intropeksi diri karena kebanggaan atas kelebihan kita. keadaan ini akan berlanjut pada sikap meremehkan atau mencela perbuatan orang lain, yang dinamakan ghuruur (angkuh) atau meningkat pada sikap merasa lebih tinggi dari orang lain sambil mencela pribadi mereka,itulah yang dinamakan takabbur (sombong).

b.      Terhalang dari restu Allah.

Jika kita bersikap ‘ujub hingga lalai terhadap nikmat yang Allah berikan, maka Allah tidak akan menolong setiap sepak terjang kita. karena Allah akan memeberikan pertolongan pada hamba-hambaNya yang tidak menyombongkan diri.

c.       Gugur saat menghadapi Ujian atau Kesulitan.

Nabi SAW bersabda,

“ .....Peliharalah hak-hak Allah, niscaya engkau akan mendapatiNya sebagai pendukungmu. Ingatlah Allah ketika engkau dalam keadaan lapang, niscaya Ia akan mengingatmu di kala engkau tengah menghadapi kesulitan....” (HR. Ahmad)

d.      Dijauhi dan dibenci manusia.

Orang yang berprilaku ‘Ujub pada hakikatnya mengundang kemurkaan Allah, maka barang siapa yang dimurkai Allah,niscaya akan dimurkai pula oleh penghuni langit, yang selanjutnya akan merembet kepada kemurkaan penduduk bumi.

e.       Mendapat hukuman dan balasan dari Allah, cepat atau pun lambat.

f.       Gagal dalam dakwah

Hal ini dikarenakan aktivis dakwah yang ‘Ujub yakni gagal dalam menghadapi ujian dari Allah.

g.      Menjadikan masyarakat antipati terhadapnya.

 

D.    Fenomena I’jaab Bin-nafsi

-          Menganggap dirinya suci

-          Sulit menerima nasihat

-          Senang mendengar cacat-cacat dan Aib orang lain, terutama rekannya sendiri.

 

 

E.     Kiat-kiat mengatasi penyakit ‘Ujub

v  Selalu Mengingat Hakikat Jiwa Manusia

v  Senantiasa mengingat hakikat kehidupan dunia dan akhirat.

v  Senantiasa mengingat Luasnya nikmat  dan karunia yang Allah SWT berikan.

v  Men-tafakuri akan datangnya kematian dan kehidupan setelahnya.

v  Senantiasa mengkaji ayat-ayat Allah SWT.

v  Senantiasa Menghadiri Majelis Ilmu.

v  Berziarah ke kuburan.

v  Merasa takut akan azab Allah terhadap hambaNya yang ‘Ujub.

v  Memutuskan hubungan dengan para pelaku ‘ujub.

v  Mencontoh perilaku para ulama salaf.

v  Senantiasa bermuhasabah diri.