اعجاب بالنفس
(Membanggakan
diri)
A. Pengertian
I’Jaab Bin-Nafsi
Dalam
bahasa arab, kata I’jaab mengandung beberapa arti. Antara lain:
a. Rasa senang, tertarik, atau kagum. A’jabahul-amru,
artinya ‘sesuatu itu telah menjadikannya senang’ , u’jiba bihi, artinya
‘ia menjadi terikat dengannya.’ Allah SWT berfirman,
وَلَا
تَنكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّىٰ يُؤْمِنَّ ۚ
وَلَأَمَةٌ مُّؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِّن مُّشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ ۗ
وَلَا تُنكِحُوا الْمُشْرِكِينَ حَتَّىٰ يُؤْمِنُوا ۚ
وَلَعَبْدٌ مُّؤْمِنٌ خَيْرٌ مِّن مُّشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ ۗ
أُولَٰئِكَ يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ ۖ
وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ ۖ
وَيُبَيِّنُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ
“Dan janganlah kamu menikahi perempuan musyrik,
sebelum mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya perempuan yang beriman lebih
baik dari pada perempuan musyrik meskipun dia menarik hatimu. Dan janganlah
kamu nikahkan orang (laki-laki) musyrik (dengan perempuan yang beriman) sebelum
mereka beriman. Sungguh hamba sahaya laki-laki yang beriman lebih baik daripada
laki-laki musyrik meskipun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka,
sedangkan Allah mengajak ke surge dan ampunan dengan izinNya. (Allah)
menerangkan ayat-ayatNya kepada manusia agar mereka mengambil pelajaran.” (QS. Albaqoroh : 221)
Firman lain,
“Katakanlah, ‘Tidak sama yang buruk dengan yang baik meskipun banyaknya
yang buruk itu menarik hatimmu…” (QS Al-Baqarah : 100)
b. Kemegahan, kemuliaan, dan kebesaran. A’jabahul-amru,
artinya ‘merasa megah’, ‘mulia’, atau ‘besar dengan sesuatu’. Seorang mu’jib
berarti ‘orang yang merasa megah, agung, dan besar’ ketika ia memiliki
sesuatu, baik kebaikan atau keburukan.
Allah SWT berfirman,
“…. Dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu pada waktu kamu menjadi
congkak karena banyaknya jumlahmu, maka jumlah yang banyak itu tidak member
manfaat kepadamu sedikit pun…..” (QS. At-Taubah : 25)
Menurut istilah dalam dakwah, I’jaab bin-nafsi yaitu ‘rasa senang
dan bahagia, baik pada diri pribadi, kata-kata, atau perbuatan yang
dilakukannya, tanpa memperhitungkan orang lain’. Baik kesenangan itu karena
kebaikan atau pun keburukan. Jika dalam rasa senangnya itu disertai sikap
mengejek atau merendahkan perbuatan orang lain, maka hal tersebut disebut ghuruur
atau sangat ‘ujub sekali.
B. Faktor-faktor penyebab I’jaab Bin-Nafsi
1. Latar belakang awal kehidupan.
Seseorang yang terbiasa hidup dibawah asuhan orang tua yang memiliki
sifat suka dipuji baik dalam kebaikan maupun kebathilan, kebal terhadap nasihat
atau kritik, dan hal-hal lain yang bersifat I’jaab bin-nafsi berpeluang
besar terkena penyakit tersebut, kecuali bagi mereka yang mendapat rahmat Allah
SWT.
2. Sanjungan dan Pujian di hadapannya yang
tidak memperhatikan adab islam.
Seseorang yang senantiasa mendapat pujian atau sanjungan secara langsung
yang tidak memperhatikan adab memuji yang diajarkan islam, Ia akan tergila-gila
dengan pujian itu dan merasa bahwa pujian itu lahir karena kemampuan yang
dimilikinya dan tidak dimiliki orang lain. Cetusan hati ini akn terus tumbuh
dalam jiwanya sampai akhirnya Ia tertimpa penyakit I’jaab bin-nafsi .
3. Berteman dengan orang yang Ujub.
4. Terlena oleh kenikmatan dan melupakan Allah
Maha pemberi nikmat.
Sebagian orang yang telah Allah beri nikmat berupa harta, ilmu, kemampuan, kecantikan, kedudukan, dan lain-lain. Kemudian Ia terlena oleh nikmat tersebut dan
melupakan Allah yang memberi nikmat tersebut. Dibawah pengaruh keterlenaan
inilah hati mulai terkotori dengan perasaan bangga terhadap apa yang dimiliki
atas kemampuan yang Ia miliki, dan akhirnya ia terkena penyakit I’jaab
Bin-Nafsi.
Contoh dari
kesombongan terhadap harta yaitu kisah Karun yang sombong atas hartanya yang
melimpah.
Allah SWT
berfirman,
فَخَرَجَ
عَلَىٰ قَوْمِهِ فِي زِينَتِهِ ۖ قَالَ الَّذِينَ يُرِيدُونَ
الْحَيَاةَ الدُّنْيَا يَا لَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَا أُوتِيَ قَارُونُ إِنَّهُ
لَذُو حَظٍّ عَظِيمٍ [٢٨:٧٩]
“Maka keluarlah Karun kepada kaumnya dalam
kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia,
‘Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan keepada
Karun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar’.”
Islam menegaskan bahwa segala nikmat itu bersumber dari Allah semata.
Firman Allah SWT :
وَمَا
بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ۖ ثُمَّ إِذَا
مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ [١٦:٥٣]
“Dan semua nikmat yang
ada padamu hanyalah dari Allah…”
(QS.An-Nahl : 53)
5.
Tampil Melaksanakan Aktivitas Sebelum Matang dan Sempurna
Pendidikannya.
وَمَا
كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنفِرُوا كَافَّةً ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ
مِن كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَائِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ
وَلِيُنذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ
[٩:١٢٢]
“Mengapa
tidak pergi dari segolongan mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan
mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka
kembali kepada-Nya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (QS. At-taubah :
122)
Umar Bin
Khaththab berkata,
“perolehlah
pemahaman terlebih dahulu sebelum kalian memimpin.”
Maksudnya,
pelajarilah ilmu sebelum kita melaksanakan tugas sebagai pemimpin dan sebelum
memikul suatu tanggung jawab, agar kita mampu menyingkap dan menyelesaikan
setiap kendala dan problema pada saat kita menjadi seorang pemimpin dan
melaksanakan tanggung jawab.
6.
Lalai atau Jahil terhadap hakikkat diri.
Manakala
manusia lupa atau tidak mengenal hakikat dirinya, Ia akan mudah terperosok pada
penyakit ‘ujub. Ketika kita tidak mengenali bahwa kita ini hanya manusia
yang terbuat dari tanah dan memiliki kepastian akan kematian, kita hanya
mengenali indahnya dunia, maka penyakit ‘ujub akan menyerang kita. Banyak ayat dan hadits
yang mengingatkan kita akan asal mula manusia.
FirmanNya,
“Bukankah Kami telah ciptakan kalian
dari air yang hina.”
(QS.
Al-Mursalat: 20)
“Kemudian Dia akan mematikan (manusia) dan
menguburkannya.”
(QS. ‘Abasa:
21)
7.
Berasal dari keturunan bangsawan.
Sesungguhanya
kita tidak mempunyai hak ikut campur tangan dalam hal nasab, karena itu
merupakan ketentuan Illahi. Seperti yang telah dijelaskan, bahwa ketika kita
sudah mampu mengenal hakikat diri kita, maka kita tidak akan lagi menjadikan
hal-hal yang bersifat duniawi menjadi prioritas untuk menjadi kebanggaan,
begitupun dalam hal keturunan, kita tidak akan lagi menjadikan permasalahan
antara keturunan bangsawan atau rakyat biasa, karena pada hakikatnya keduanya
sama-sama lahir dari sumber yang sama.
8.
Terlalu berlebih dalam memberikan penghormatan.
Hal ini masih
banyak sekali ditemukan di masyarakat kita. Seperti mencium tangan atau
menundukkan badan secara berlebihan ketika berhadapan dengan seseorang yang
dianggap mulia seperti Kyai. Perlakuan ini akan menjadikan seseorang mendapat
bisikan bahwa perlakuan ini adalah karena kemuliaan yang dimilikinya, dan
bisikan ini akan berakhir pada penyakit bangga diri (‘ujub binnafsi).
C.
Dampak dari penyakit ‘Ujub Bin-Nafsi’
a.
Terjerat dalam sikap angkuh bahkan sombong.
Penyakit ‘ujub
akan menjadikan kita meremehkan intropeksi diri karena kebanggaan atas
kelebihan kita. keadaan ini akan berlanjut pada sikap meremehkan atau mencela
perbuatan orang lain, yang dinamakan ghuruur (angkuh) atau meningkat
pada sikap merasa lebih tinggi dari orang lain sambil mencela pribadi
mereka,itulah yang dinamakan takabbur (sombong).
b.
Terhalang dari restu Allah.
Jika kita
bersikap ‘ujub hingga lalai terhadap nikmat yang Allah berikan, maka Allah
tidak akan menolong setiap sepak terjang kita. karena Allah akan memeberikan
pertolongan pada hamba-hambaNya yang tidak menyombongkan diri.
c.
Gugur saat menghadapi Ujian atau Kesulitan.
Nabi SAW
bersabda,
“
.....Peliharalah hak-hak Allah, niscaya engkau akan mendapatiNya sebagai
pendukungmu. Ingatlah Allah ketika engkau dalam keadaan lapang, niscaya Ia akan
mengingatmu di kala engkau tengah menghadapi kesulitan....” (HR. Ahmad)
d.
Dijauhi dan dibenci manusia.
Orang yang
berprilaku ‘Ujub pada hakikatnya mengundang kemurkaan Allah, maka barang siapa
yang dimurkai Allah,niscaya akan dimurkai pula oleh penghuni langit, yang
selanjutnya akan merembet kepada kemurkaan penduduk bumi.
e.
Mendapat hukuman dan balasan dari Allah, cepat atau pun lambat.
f.
Gagal dalam dakwah
Hal ini
dikarenakan aktivis dakwah yang ‘Ujub yakni gagal dalam menghadapi ujian dari
Allah.
g.
Menjadikan masyarakat antipati terhadapnya.
D.
Fenomena I’jaab Bin-nafsi
-
Menganggap dirinya suci
-
Sulit menerima nasihat
-
Senang mendengar cacat-cacat dan Aib orang lain, terutama rekannya
sendiri.
E.
Kiat-kiat mengatasi penyakit ‘Ujub
v Selalu
Mengingat Hakikat Jiwa Manusia
v Senantiasa
mengingat hakikat kehidupan dunia dan akhirat.
v Senantiasa
mengingat Luasnya nikmat dan karunia
yang Allah SWT berikan.
v Men-tafakuri
akan datangnya kematian dan kehidupan setelahnya.
v Senantiasa
mengkaji ayat-ayat Allah SWT.
v Senantiasa
Menghadiri Majelis Ilmu.
v Berziarah ke
kuburan.
v Merasa takut
akan azab Allah terhadap hambaNya yang ‘Ujub.
v Memutuskan
hubungan dengan para pelaku ‘ujub.
v Mencontoh
perilaku para ulama salaf.
v Senantiasa
bermuhasabah diri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar